Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Kampus

Dari “Barbar Timur” ke “Little China”: Prof. Changzoo Song Bedah Trajektori Panjang Identitas Korea di Kelas HI UMM

Mei 5, 2026
in Kampus
Dari “Barbar Timur” ke “Little China”: Prof. Changzoo Song Bedah Trajektori Panjang Identitas Korea di Kelas HI UMM

MALANG, MediaMahasiwa.com – Jauh sebelum K-pop mendominasi panggung global dan tim panahan Korea Selatan menguasai Olimpiade, peradaban Tiongkok kuno sudah lebih dulu mencatat orang-orang Korea dengan satu istilah yang khas: Tongyi (東夷), atau “Barbar Timur”. Catatan abad ke-3 Masehi dalam Sanguozhi Weizhi Dongyizhuan menggambarkan mereka sebagai bangsa yang gemar berpesta, menyanyi, menari, dan minum, dengan adat istiadat yang berbeda dari Tiongkok, mulai dari gaya rambut, agama, sistem perbudakan, hingga adat pernikahan.

Catatan kuno inilah yang menjadi titik tolak Prof. Changzoo Song dari University of Auckland dalam memetakan trajektori identitas Korea selama dua milenium. Dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia menunjukkan bahwa apa yang sering kita lihat sebagai “fenomena Korea kontemporer” sebenarnya adalah kelanjutan dari kesadaran identitas yang sudah mengakar sejak ribuan tahun lalu. Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea.

“Catatan Tiongkok itu sebenarnya menarik dibaca dua arah. Di satu sisi, itu cara Tiongkok memandang tetangga timurnya sebagai ‘yang lain’. Tetapi di sisi lain, orang Korea sendiri juga menganggap diri mereka berbeda dari tetangga-tetangga mereka, baik Han Tiongkok, Mongol, Jurchen, maupun Jepang. Ada kesadaran identitas yang kuat sejak awal,” ujar Prof. Song.

Kesadaran inilah, menurutnya, yang memungkinkan Korea melakukan sesuatu yang sulit dilakukan negara-negara lain di sekitar Tiongkok, yaitu menyerap kebudayaan dan teknologi superior dari Tiongkok sambil tetap menjaga kemerdekaan politik dan kultural. Perang Silla-Tang pada 668-676 M menjadi salah satu contoh konkret bagaimana Korea menarik garis tegas terhadap dominasi politik Tiongkok meskipun aktif belajar dari peradabannya.

Namun trajektori identitas Korea tidak berhenti di posisi sebagai “yang berbeda dari Tiongkok”. Prof. Song menunjukkan twist yang menarik dalam sejarah Korea, yaitu fase di mana Korea justru mengklaim diri sebagai pewaris sah peradaban Tiongkok.

“Setelah dinasti Ming runtuh oleh Manchu pada awal abad ke-17, elite Joseon menganggap diri mereka sebagai penjaga peradaban Konfusianisme yang sesungguhnya. Mereka menyebut Korea sebagai ‘Little China’. Bagi mereka, Qing yang dipimpin Manchu bukanlah pewaris sah peradaban itu, melainkan Joseon-lah yang lebih beradab,” jelas Prof. Song.

Pada periode inilah Joseon menutup diri dari dunia luar, mempertahankan hanya hubungan upeti dengan Qing dan kontak dagang yang terbatas dengan Jepang. Paradoks ini, menurut Prof. Song, justru menunjukkan kompleksitas identitas Korea yang tidak bisa direduksi menjadi narasi sederhana tentang “negara yang selalu belajar dari Tiongkok”.

Dalam pemaparannya, Prof. Song juga menyoroti sejumlah keunikan Korea dibandingkan tetangga-tetangganya di Asia Timur. Bahasa Korea berasal dari rumpun yang berbeda dari Tiongkok dan Jepang, kemungkinan terkait dengan rumpun Paleo-Siberian. Sistem politik Joseon juga unik, di mana kekuasaan dibagi antara raja dan elite yangban — berbeda dari absolutisme kaisar Tiongkok atau fragmentasi daimyo di Jepang. Hasilnya, dinasti Joseon mampu bertahan 525 tahun, jauh lebih lama dari Ming (276 tahun), Qing (267 tahun), maupun Tokugawa Bakufu (268 tahun) di Jepang.

Bahkan di hal-hal sehari-hari seperti peralatan makan, keunikan ini terlihat jelas. Korea adalah satu-satunya negara di Asia Timur yang mempertahankan tradisi sumpit logam disertai sendok. Sumpit di Tiongkok memudar seiring populernya mi, sementara di Jepang memudar karena dominasi nasi Japonica yang lengket. Korea, dengan tradisi Konfusianisme yang kuat dan budaya sup yang dominan, mempertahankan keduanya. Marga Kim yang berarti “logam” pun menjadi penanda bahwa Korea kuno memang dikenal dengan produksi logamnya.

“Yang menarik bagi saya adalah, semua keunikan ini bukan sesuatu yang dirancang untuk menjadi unik. Ia muncul dari interaksi panjang antara geografi, ekonomi pertanian, tradisi keagamaan, dan posisi politik Korea di antara tetangga-tetangga yang lebih besar,” urai Prof. Song.

Posisi geografis Semenanjung Korea di antara daratan Asia (Tiongkok) dan Samudra Pasifik (Jepang), menurutnya, adalah berkah sekaligus tantangan. Berkah karena memungkinkan pertukaran budaya yang intens, tantangan karena selalu berhadapan dengan tetangga yang lebih besar dan lebih kuat. Justru dari tekanan inilah, identitas Korea terbentuk dan terus diasah selama ribuan tahun.

Di akhir kelas, Prof. Song mengajak para mahasiswa HI UMM untuk membaca fenomena Korea kontemporer dengan kacamata yang lebih panjang. K-pop, K-drama, dan dominasi Korea Selatan di berbagai bidang olahraga dan teknologi, menurutnya, bukan kemunculan tiba-tiba.

“Catatan Tiongkok 2.000 tahun lalu sudah menyebut orang Korea suka berpesta, menyanyi, dan menari. Mungkin ada sesuatu yang konsisten di sana. Yang berubah hanyalah panggung dan medianya, dari festival lokal di Goguryeo hingga konser BTS di stadion-stadion dunia,” tutup Prof. Song. (*)

Tags: HI UMM
ShareTweet

Related Posts

Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan
Kampus

Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Citra indah Korea Selatan yang kerap ditampilkan melalui drama dan musik K-Pop ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan realitas...

Juli 10, 2026
Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan
Kampus

Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan

Budaya populer Korea Selatan (K-Culture) tidak hanya berhasil menaklukkan dunia hiburan global, tetapi juga memainkan peran penting dalam meredefinisi wajah...

Juni 28, 2026
Dari Pekerja Migran hingga Penikmat K-Pop: Guru Besar HI UMM Bedah Realitas Kehidupan Muslim di Korea Selatan
Kampus

Dari Pekerja Migran hingga Penikmat K-Pop: Guru Besar HI UMM Bedah Realitas Kehidupan Muslim di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Korea Selatan kini tengah mengalami transisi besar dari negara beretnis tunggal (dan-il minjok) menjadi masyarakat yang semakin...

Juni 20, 2026
Kampus

Dobrak Stigma ‘Hermit Kingdom’, HI UMM Hadirkan Akademisi Selandia Baru untuk Bedah Dinamika Korea Utara

MALANG, MediaMahasiswa.com - Di balik citra tertutup yang sering ditampilkan media, Korea Utara menyimpan dinamika sosial-ekonomi yang kompleks dan kerap...

Juni 9, 2026
Next Post
Gandeng University of Auckland, Prodi HI UMM Soroti Transformasi Riset Kualitatif dan Etika AI

Gandeng University of Auckland, Prodi HI UMM Soroti Transformasi Riset Kualitatif dan Etika AI

Gandeng Macquarie University, Prodi HI UMM Kupas Tuntas Keajaiban Ekonomi dan “Developmental State” Korea Selatan

Gandeng Macquarie University, Prodi HI UMM Kupas Tuntas Keajaiban Ekonomi dan "Developmental State" Korea Selatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link