Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
No Result
View All Result
Media Mahasiswa
No Result
View All Result
Home Kampus

Krisis Demografi dan Stigma ‘Kosian’ Desak Korea Selatan Rombak Total Ekosistem

Oktober 8, 2026
in Kampus
Krisis Demografi dan Stigma ‘Kosian’ Desak Korea Selatan Rombak Total Ekosistem

MALANG, MediaMahasiswa.com – Kejatuhan angka kelahiran (fertility collapse) hingga 1,23 persen dan lonjakan populasi lansia sebesar 11,3 persen memaksa Korea Selatan merombak kebijakan imigrasinya. Isu krusial ini dikupas oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. dalam perkuliahan “Multiculturalism Education in South Korea” yang digelar HI UMM bersama Academy of Korean Studies, dengan dukungan Kementerian Pendidikan Korea Selatan (AKS-2023-INC-2230009).

Laju pertumbuhan penduduk Korea Selatan merosot hingga 0,24 persen, dengan hanya 4,5 bayi lahir per 1.000 penduduk akibat maraknya gaya hidup childfree dan penundaan usia pernikahan. “Satu perempuan di Korea Selatan rata-rata hanya melahirkan setengah anak atau 0,5 secara statistik. Runtuhnya fertilitas menciptakan kekosongan sektor produktif yang terpaksa diisi pekerja migran,” terang Prof. Gonda Yumitro di hadapan mahasiswa HI UMM.

Fenomena ini mendorong gelombang Pekerja Migran Indonesia (PMI) serta imigran Asia Tenggara. Meski menawarkan gaji minimum Rp10 juta di sektor domestik hingga Rp20-30 juta per bulan di sektor manufaktur, imigran dihadapkan pada tingginya biaya hidup dan tantangan budaya.

Masalah kian kompleks ketika imigran membentuk keluarga dengan warga lokal. Lahir istilah ‘Kosian’ (Korean-ASEAN) untuk anak-anak hasil pernikahan internasional yang kerap mengalami stigma sosial.

“Terjadi bias rasial yang kontras. Pasangan asing asal Asia Tenggara atau Asia Selatan kerap menerima pandangan sinis (resentful look), berbeda dengan perlakuan hangat bagi pasangan berkulit putih dari Barat,” ungkap Prof. Gonda. Prasangka ini berdampak langsung pada anak-anak berdarah campuran, yang rentan mengalami kebingungan identitas (identity confusion), perundungan (bullying) di sekolah, hingga gangguan mental.

Prof. Gonda menegaskan bahwa mobilitas penduduk antarnegara kini tak lagi bisa dibendung. Kewarganegaraan modern dituntut tidak lagi sebatas status hukum kaku, melainkan jaminan kesetaraan hak dan perlindungan nyata bagi masyarakat lintas negara.

Menghadapi krisis sosial ini, Pemerintah Korea Selatan menggeser paradigma dari asimilasi kaku menuju model multikultural berlandaskan kewarganegaraan global (global citizenship). Sekolah seperti Seoul Global High School dan Ansan Wongko Elementary School pun menerapkan kurikulum inklusif anti-bias.

“Membangun masyarakat multikultural adalah keharusan sejarah di tengah mobilitas global. Kuncinya pada pemahaman bersama agar perbedaan menjadi jembatan perdamaian,” pungkas Prof. Gonda. (*)

Tags: HI UMM
ShareTweet

Related Posts

Sekolah Kosong hingga Serbuan Pengantin Migran: Prof. Changzoo Song Bedah Multikulturalisme Asia Timur
Kampus

Sekolah Kosong hingga Serbuan Pengantin Migran: Prof. Changzoo Song Bedah Multikulturalisme Asia Timur

MALANG, MediaMahasiswa.com - Fenomena krisis demografi ekstrem ditandai dengan terbengkalainya sekolah-sekolah di kawasan pedesaan hingga merosotnya angka kelahiran Korea Selatan...

Oktober 8, 2026
Bumerang Wisman dan Kelangkaan SDM: Sektor Hospitality Korea Selatan Incar Pekerja Terampil Indonesia
Kampus

Bumerang Wisman dan Kelangkaan SDM: Sektor Hospitality Korea Selatan Incar Pekerja Terampil Indonesia

MALANG, MediaMahasiswa.com - Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara hingga diproyeksikan menembus 20 juta jiwa pada akhir 2026, berpadu dengan krisis demografi...

Oktober 8, 2026
Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan
Kampus

Di Balik Gemerlap K-Pop, Pakar Monash University Ungkap Realitas Kerasnya Hidup di Korea Selatan

MALANG, MediaMahasiswa.com - Citra indah Korea Selatan yang kerap ditampilkan melalui drama dan musik K-Pop ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan realitas...

Juli 10, 2026
Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan
Kampus

Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan

Budaya populer Korea Selatan (K-Culture) tidak hanya berhasil menaklukkan dunia hiburan global, tetapi juga memainkan peran penting dalam meredefinisi wajah...

Juni 28, 2026
Next Post
Bumerang Wisman dan Kelangkaan SDM: Sektor Hospitality Korea Selatan Incar Pekerja Terampil Indonesia

Bumerang Wisman dan Kelangkaan SDM: Sektor Hospitality Korea Selatan Incar Pekerja Terampil Indonesia

Sekolah Kosong hingga Serbuan Pengantin Migran: Prof. Changzoo Song Bedah Multikulturalisme Asia Timur

Sekolah Kosong hingga Serbuan Pengantin Migran: Prof. Changzoo Song Bedah Multikulturalisme Asia Timur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Categories

  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional

Tentang Kami

Media Mahasiswa merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang berdiri secara Independen.

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Kampus
  • Lifestyle
  • Mahasiswa
  • Nasional
  • Opini
Secret Link