Runtuhnya Blok Soviet pada akhir era Perang Dingin sempat melempar Vietnam ke dalam krisis identitas (identity crisis) dan isolasi diplomasi. Namun, krisis tersebut justru menjadi blessing in disguise yang membebaskan Vietnam dari jerat ideologi kaku menuju integrasi di Asia Tenggara. Realitas historis dan peta jalan rekonsiliasi regional tersebut dipaparkan oleh pakar hubungan internasional sekaligus mantan Duta Besar Vietnam untuk Republik Korea, Prof. Nguyen Vu Tung dari Diplomatic Academy of Vietnam (DAV), dalam kuliah bertema “National Identity, Cultural Diversity, and Regional Integration: Vietnam’s Experience in a Changing Southeast Asia“. Agenda ilmiah ini diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) bekerja sama dengan Eurasia Foundation dalam rangkaian Eurasia Lecture Series.
Prof. Tung menjelaskan bahwa pasca-penyatuan negara pada 1975, Vietnam sempat memandang ASEAN dengan kecurigaan ideologis. Hilangnya naungan Soviet lantas memaksa Vietnam merumuskan ulang strategi pembangunan berbasis kepentingan nasional. Tanpa tekanan kekuatan besar (big powers), Vietnam memanfaatkan gelombang globalisasi, biaya tenaga kerja kompetitif, serta meneladani keberhasilan East Asian Miracle.”Model ekonomi sosialis lama tidak lagi efektif. Kemiskinan dan ketertinggalan justru kami ubah menjadi keunggulan komparatif untuk menarik investasi regional,” terangnya.
Pergeseran persepsi membuat Vietnam melihat banyak kesamaan dengan ASEAN, khususnya cita-cita kemerdekaan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas politik. Prof. Tung mengutip dialog bersejarah mendiang Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, yang menegaskan agar perbedaan ideologi diabaikan demi tujuan kawasan. Rekonsiliasi ini kian mulus berkat peran Indonesia sebagai bridge diplomasi isu Kamboja, penarikan pasukan Vietnam pada 1989, serta penandatanganan Treaty of Amity and Cooperation (TAC) 1992.”Hanya butuh dua tahun setelah menjadi pengamat (observer), Vietnam resmi menjadi anggota penuh ASEAN pada 1995 karena kami merasa berada di kapal yang sama (on the same boat),” jelasnya.
Menariknya, mantan Presiden DAV itu membeberkan bahwa kawasan Asia Timur seperti Korea Selatan justru iri pada soliditas Asia Tenggara. Tanpa kelembagaan sekuat ASEAN, negara Asia Timur kesulitan meredakan ketegangan geopolitik. Di sisi lain, keanggotaan ASEAN turut mempercepat rekonsiliasi domestik Vietnam dengan kelompok diaspora melalui diplomasi inklusif.
Ia menutup perkuliahan dengan menekankan peran generasi muda dalam merawat komunitas ASEAN (people-centered ASEAN). “Keberagaman bukanlah penghalang, melainkan imajinasi kolektif yang merekatkan kita dalam persatuan,” pungkasnya mengakhiri sesi kelas. (*)






